lamaran itu harus diralat…..

October 8, 2009 by Dariman  
Filed under Cerita, Imajinasi, Keluarga, blog

Huuuaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh…………… Pagi ini kok ngantuk banget yaa………..

Semalam habis begadang menemani Sisul, tapi ya tetap saja jadi pendengar setia siaran langsung dari stasiun radio Sisul, he he he he he he……………

Malam itu Sisul bukan lagi cerita tentang kegelisahan kesalahannya pada Santi, tapi dia cerita kelanjutan hubungan kedepannya dengan Shinta. Suatu kabar yang menggembirakan, dan saya pun ikut senang ketika mendengar kabar itu. Bukan hanya senang karena Sisul sudah bisa bangkit dari rasa kebersalahan, ketidak semangatan, dan kegundahan yang selalu membayangi pikiran karena rasa berdosanya pada Santi.

Syukur alhamdulillah, akhirnya Sisul benar-benar mengambil keputusan yang sungguh luar biasa. Ya, sungguh luar biasa, karena saya juga belum bisa mengambil keputusan seperti apa yang dia putuskan. Akhirnya Sisul benar-benar bertekad segera mengakhiri masa lajangnya. Sisul akhirnya melamar Shinta.

Alhamdulillah……….. akhirnya kau tekadkan juga niatmu itu, Sul. Sebuah pujianku pada Sisul.

Makasih, kang. Itu juga berkat dorongan kakang yang selama ini selalu menasehatiku.

Tapi begini, kang……….

Begini bagaimana maksudmu, Sul ?

Ya, dalam proses lamaran kemarin ada kesalahan teknis, kang.

Maksudmu kesalahan teknis bagaimana ? saya mencoba menggali penjelasan Sisul dari kesalahan teknis itu.

Ceritanya begini, kang.

Ketika lebaran kemarin semua keluargaku kan kumpul, kakak-kakakku juga ada semua diruangan itu. Dan ternyata mereka itu membincangkan soal masadepanku, yang maksudnya masadepan dalam berkeluarga. Mereka menanyakan soal calon pasangan hidupku, kapan aku akan membina keluarga.

Suatu ketika sengaja aku mengajak Shinta main kerumah, aku kenalkan dia kepada semua kakak-kakakku dan orang tuaku. Eeehhhhh…….. ternya, kang. Keluargaku langsung jatuh hati pada Shinta, dan mereka langsung menyuruhku untuk segera meminangnya. Ya,…sepontan aku pun setuju-setuju saja dengan pendapat kakak dan orang tuaku, dan ketika Shinta ditanya pun dia juga setuju.

Akhirnya keluargaku pun menemui keluarga Shinta untuk merembuk kapan pernikahan dilaksanakan, istilahnya ya melamar gitu, kang. he he he he he………..

Ya, saya senang mendengar kabar ini, Sul. Terus bagaimana kelanjutannya, dan kapan kau akan menikah ?

Justru itu, kang. Ketika dirumah kakak dan orang tuaku sepakat jika pernikahan itu dilaksanakan 3 atau 5 bulan lagi. Tapi, kenyataannya tidak seperti itu. Sebenarnya masalah waktu, kedua orang tua Shinta sih ngikut saja, dari pihak keluarga Shinta mau menentukan kapan waktunya. Eh…….. malah kakaku bilangnya sekitar 1 atau 2 bulan lagi, dan keluarga Shinta pun menyetujui dengan keputusan itu. Itu gimana coba, kang ? apa ndak bikin pusing…… ?

Hmmmm………. kok bisa kakaku itu mengambil keputusan seperti itu ? bukannya sudah disepakati waktunya 3 atau 5 bulan lagi ?

Justru itu, kang. Kakaku sih alasannya biar ndak terlalu kelamaan.

Ooooo…….. gitu. Lalu kau sendiri bagaimana ? siap dengan keputusan kakakmu itu ?

Ya, sebenarnya aku sih belum begitu siap dengan waktu yang sedekat itu, kang. Tapi………….

Ya sudah…….. keputusan itu belum harga mati, kan ? keputusan itu masih bisa dinego…. he he he he he……..

Ah, bisa aja, kang. Ya, keputusan itu masih bisa dibicarakan lagi dengan pihak keluarga Shinta. Semoga keluarga Shinta bisa mengerti aku.

Amin, semoga keputusan itu masih bisa dirubah…

Rencananya sih nanti malam, kang. Nanti malam keluargaku berencana akan kerumah Shanti lagi, meralat keputusan itu. he he he he he………..

Ya, semoga misimu berhasil, Sul…

Makasih, kang…

Tak tunggu kabar selanjutnya, Sul. Jangan bosan-bosan kau main kesini..

Iya, kang. Tapi aku juga minta maaf jika selama ini aku selalu mengganggu kenyamanan istirahat kakang.

Sudah, ndak usah dipikirkan. Kau mau main kesini aja aku sudah seneng, tapi lebih seneng lagi kalau kau kesini bawa klethikan dan kopi… he he he he he…… ndak, itu becanda Sul..

He he he he he………. bisa aja, kang.

Ya sudah, ya kang. Aku pamit pulang dulu, ndak enak nih dah malam. Assalamu’alaikum..

Ya, Wa’alaikum salam….

Hmmmmm…….. Sisul, Sisul……………….. ada-ada aja kau ini…….

Alhamdulillah Santi baik-baik aja, Kang…..

October 6, 2009 by Dariman  
Filed under Cerita, Imajinasi, Keluarga, blog

Setelah pertemuan itu (dalam tulisan sebelumnya), Sisul jadi sering bolak-balik main kerumah. Biasanya dia tidak sesering ini main kerumah, tidak pasti setiap bulan sekali. Setiap kali dia main kerumah, selalu saja yang diobrolkan kegelisahan dan rasa bersalahnya pada Santi. Sore itu, Sisul menceritakan apa yang telah dia lakukan.

Kang…… Sisul memanggil Saya

Iya, gimana kabarmu….?

Alhamdulillah baik, kang…

Ya syukur lah….

Oh, iya kang. Kemarin aku sudah ngomong terus terang pada Santi, dan sepertinya dia juga bisa mengerti. Semoga dia baik-baik saja ya, kang

Ya, syukur jika dia bisa mengerti, dan saya yakin jika Santi bisa mengerti, dia pasti akan baik-baik saja.

Tapi tetap saja, kang. Aku tetap merasa kasihan pada dia. Kira-kira Santi kecewa apa tidak ya, kang ?

Ya, yang namanya manusia ya wajar saja jika merasa kecewa. Jika sudah tidak punya rasa kecewa malah itu sudah tidak wajar lagi, he he he he he …….

Ya, ndak begitu, kang.

Ndak begitu bagaimana ?

Aku masih merasa kasihan pada dia, aku takut jika dia tidak bisa menerima dan dia tersakiti, aku ndak mau dia sakit karena aku. Apa lagi jika sampai sakit terus menerus…

Ya ndak begitu lah, Sul… Saya yakin, jika Santi sudah bisa menerima, dia pasti lebih bisa menerima kenyataan daripada kamu. Nyatanya malah kamu sendiri yang tersakiti.

Maksudnya…..??? Sisul masih bingung dengan kata-kata saya itu

Ya, saya lihat malah kamu sendiri yang tersakiti. Nyatanya kamu belum bisa menerima kenyataan ini, kamu masih saja memikirkan dia, padahal ini adalah keputusan pilihanmu.

Iya, sih……… Sisul termenung

Ya sudah, jika kamu sudah bisa merasakan itu. Sekarang masalahnya tinggal ada pada dirimu sendiri. Kamu bisa menerima kenyataan apa tidak.

Ya, berlahan aku coba, kang.

Sudah lah……… ndak usah terlalu dipikirkan begitu dalam, nanti malah kamu sendiri yang setresss……..he he he he he…………….

Berat, kang. Soalnya aku merasa bersalah sekali pada Santi, dia itu anaknya baik banget.

Ya, saya tau, Sul. Sebaik apa pun, pilihanmu kan sudah ditentukan pada Shinta, kau memilih Shinta, kan …. ?

Iya, kang….

Ya sudah, jika pilihanmu itu sudah mantap, kenapa kamu malah menambah masalah sendiri….

Iya sih……………

Sudah, ndak usah terlalu dipikirkan. Yang namanya manusia kecewa itu wajar dan lumrah. Awalnya memang berat untuk menerima, tapi suatu saat pasti bisa menerima, walau pun harus melewati proses-proses yang begitu berat. Seperti dirimu itu.

Iya, kang…

Tapi Santi punya rasa dendam apa tidak ya, kang. Aku takut jika Santi menaruh dendam padaku.

Percaya saja, jika dia sudah bisa menerima kenyataan ini, perasaan dendam itu tidak mungkin ada dalam pikirannya. Itu juga tergantung kamu bisa mengkomunikasikan atau tidak. Jadi kamu ndak usah mengkhawatirkan itu.

Maksudnya mengkomunikasikan ……..?  Sisul belum juga maksud dengan kata-kata itu.

Ya, maksudnya….. Bagaimana kamu mengutarakan keputusanmu itu. Bagaimana hati Santi tidak terlalu tersakiti ketika mendengar kata-kata keputusanmu itu, sehingga dia bisa menerima dan tidak begitu tersakiti.

Ooooohhh………..

Ya sudah, sekarang masalahnya tinggal pada dirimu sendiri. Kamu bisa apa tidak melewati proses ini ?

Ya, Aku coba, kang. Semoga aku bisa lebih tabah menerima kenyataan ini.

Weleh………. kaya anak ayam baru ditinggal induknya…. ha ha ha ha ha……… ndak usah berlebihan gitu, biasa aja…….

Iya, kang…..

Ya sudah, kang. Aku pulang dulu, coba nanti tak hubungi lagi si Santi. Semoga dia tidak apa-apa.

Diantara dua pilihan, Santi atau Shinta…?

October 5, 2009 by Dariman  
Filed under Cerita, Imajinasi, Keluarga, blog

Dua hari yang lalu Sisul datang kerumah, ya … mungkin dia pengin silaturami, halal bi halal, mengucapkan minal aidin wal faidzin dan sebagainya, atau dia malah pengin ngajak jalan-jalan adikku si bungsu. Maklum lah…. gaya anak muda… penuh tanda tanya ha ha ha ha ha ha……….

Setelah salam-salaman, tak luput si bungsu juga kena samberan tangannya. Hmmmm………. batinku mulai curiga nih …………
Ealah….. si bungsu malah tambah kecentilan juga melihat Sisul……….

Tak tau kenapa Sisul malah langsung menarik tanganku keserambi belakang.

Weh weh weh………. Ada apa Sul, kok gugup gitu, kelihatannya serius bener nih. Ada masalah ………….???
Ndak ada apa-apa, pokoknya sini dulu. Aku lagi stress nih…. butuh teman ngobrol……

Ya sudah, ngobrol ya ngobrol aja ndak usah gugup gitu lah….
Sejenak ku coba menenangkan pikirannya, dan berlahan Sisul pun mulai tenang. Mulailah dia bercerita, bercerita apa yang sedang menyelimuti pikirannya.

Hmmmmm…………… rupanya lagi kasmaran, ha ha ha ha ha…… laku juga kau Sul. Ha ha ha ha ha…………..

Weh… ini serius, ndak main-main. Aku lagi stres nih mikir berkeluarga. Dua pilihan didepan muka. Disini ortu berharap aku segera nikah dengan si Shinta, disisi lain aku masih punya hubungan erat dengan si Santi. Tapi jujur, walau pun aku masih ada hubungan dengan Santi, tapi sebenarnya aku juga suka dengan Shinta.

Wah play boy juga kau ini….. Sedikit ku menyindir Sisul, dia pun melanjutkan ceritanya.

Ortu merestui hubunganku dengan Shinta karena faktor posisi atau jarak, disamping itu juga faktor budaya. Mungkin jarak tidak begitu menjadi pertimbangan, tapi budaya. Ortu masih begitu erat sekali dengan kultur budaya.

Kebetulan, aku kan anak bungsu, kau juga tau sendiri kan …?
Ya, Saya tau Sul….
Nah, begitu juga Santi. Dia juga anak bungsu.
Lalu kenapa jika sama-sama anak bungsu ? tanyaku penuh penasaran.
Ya, kata orang tua. Sama-sama anak bungsu itu ndak boleh jejodohan, dengan alasan ndak baik.
Ndak baik bagaimana, Sul ? Terus kudesak alasan ndak baik itu.
Ya, logikaku sih sederhana.
Apa itu, Sul ? Semakin penasan ketika Sisul berbelit-belit menjawab rasa penasaranku itu.
Ya, bisa dibayangkan. Jika sama-sama bungsu, nanti siapa yang ngurus orang tua. Kata orang tua, seorang anak bungsu itu jadi tumbak. Jadi anak bungsu itu berkewajiban ngrumaih (menjaga dan merawat orang tua).

Jadi seperti itu. Sekarang yang aku bingungkan gimana, disisi lain aku suka Shinta, yang memang ortu juga mengharap itu. Tapi,disisi lain aku tidak bisa mengambil keberanian memutuskan untuk menentukan pilihan. Aku suka Santi, tapi aku juga memikirkan harapan orang tua. Aku tidak berani mengatakan yang sejujurnya pada Santi, bahwa hubungan ini tidak bisa diteruskan. Aku ndak mau Santi sakit hati, aku ndak mau menyakiti hatinya.

Weh weh weh………… ya ndak bisa begitu, Sul…
Lalu bagaimana ?
Kau musti berani dan jujur pada Santi, kasihan dia. Kau harus mengambil keputusan, jangan sampai kau berlarut-larut menaruh harapan pada dia.
Justru itu, itu yang bikin kepalaku mau pecah…
Ha ha ha ha ha …………… sepontan aja saya ketawa ngakak mendengar ungkapan Sisul.
Biasa aja lagiiiii……… Gitu aja kok repot..!!!!

Gini aja, Sul. Jujur aja kau pada Santi, ngomong apa yang sebenarnya. Kau ndak usah takut dan terlalu khawatir, masalah pacaran putus hubungan itu hal yang wajar, ndak usah kaget. Soal putus memutus itu lumrah, namanya aja anak muda…..Ha ha ha ha ha ha………..

Aku ndak bisa begitu.
Lho, jika kau ndak berani mengambil keputusan itu. Sama saja kau menyakiti Santi terus menerus, katanya kau ndak mau menyakiti dia.

Iya sih, tapi………….
Ndak usah tapi-tapian, kau harus mengambil keputusan itu. Jika kau masih saja takut, ya di kawin aja dua-duanya, kan beres…. ha ha ha ha ha ha………..

Hus, ngawur……

Sejenak Sisul berfikir, melamun penuh keraguan dan kebimbangan.

Sudah, ndak usah terlalu dipikirkan. ” Nek wedi aja wani-wani, nek wani aja wedi-wedi ” , ” Berani berbuat berani bertanggung jawab “, ” Berani bermain api, maka harus siap terbakar api “

Bukan begitu, aku takut kalau Sinta sakit hati.
Itu sudah tentu pasti, Sul. Itu lumrah, dan kau harus berani memutuskan. Coba kau bicara baik-baik pada Sinta, saya yakin dia pasti bisa menerima. Walau pun awalnya memang susah untuk menerima kenyataan itu.

Begitu ya………. Tanya Sisul diambang keraguan
Ya iya……………

Kue coklat bertabur kacang jepang

October 5, 2009 by Dariman  
Filed under Cerita, Diskusi, Keluarga, blog, budaya

Hari ini, ketika tulisan ini dipublish. Baru saja ku lepaskan kata Selamat pada seorang sahabat, yang kebetulan sore ini dia sedang merayakan peringatan tanggal kelahirannya, di kantor dia kerja. Ya, walau pun kehadiranku spontan tanpa undangan, hanya kebetulan mampir aja.

Kulihat acaranya sih sederhana, tidak semewah ketika dia merayakan tasyakuran saat sunatan, dulu. Sebuah kue biasa yang berwarna coklat tua, dan sedikit polesan coklat kering bertabur kacang jepang yang segede-gede jengkol.

Merah putih bagai lambang negara tertancap diatas kue itu, dengan bentuk angka-angka. 21, menyala diatas angka itu penuh kobaran semangat, mungkin semangat penuh juang. Semoga, nyala api itu bertanda kesemangatan hidup dalam menggapai cita-cita yang diimpikan.

Kue berwarna coklat tua berpoles coklat kering dan taburan kacang, menunjukan bahwa dia hidup di tanah yang subur nan makmur, penuh kecukupan tanpa kekurangan.

Semoga sahabatku paham memaknai apa yang tersaji dalam acara itu, dan tidak sebatas acara tiup lilin, potong kue, dan menerima ucapan Selamat, atau angpau dari atasannya. Sebenarnya ada apa di tanggal itu, ada apa dengan acara itu, mengapa seperti itu, dan harus bagaimana…

Sekali lagi ku ucapkan Selamat untuk MU… ” Semoga Tuhan selalu melindungi diri MU “

Lambaian tangan MU

October 2, 2009 by Dariman  
Filed under Imajinasi, blog

Ku buka jendela mata
Ku putar balik seraya ingin lebih jelas
Dalam gambar jauh pandang disana
Sebatas frame pembatas pandang

Semakin kudekatkan mata ini
Fokus pandang semakin tak jelas
Semakin kujauhkan mata ini
Tiada kejelasan siapa dirimu

Siapa gerangan engkau disana
Membuatku semakin penasaran
Seakan membakar gelora dalam jiwa

Bidadarikah engkau disana ?
Ataukah setangkai bunga lesmana ?

Seolah kau melambaikan tangan
Seraya menyeret hati tuk menghampirimu
Tunggu, tunggulah aku disana
…………………………………………………..