Alhamdulillah Santi baik-baik aja, Kang…..
Setelah pertemuan itu (dalam tulisan sebelumnya), Sisul jadi sering bolak-balik main kerumah. Biasanya dia tidak sesering ini main kerumah, tidak pasti setiap bulan sekali. Setiap kali dia main kerumah, selalu saja yang diobrolkan kegelisahan dan rasa bersalahnya pada Santi. Sore itu, Sisul menceritakan apa yang telah dia lakukan.
Kang…… Sisul memanggil Saya
Iya, gimana kabarmu….?
Alhamdulillah baik, kang…
Ya syukur lah….
Oh, iya kang. Kemarin aku sudah ngomong terus terang pada Santi, dan sepertinya dia juga bisa mengerti. Semoga dia baik-baik saja ya, kang
Ya, syukur jika dia bisa mengerti, dan saya yakin jika Santi bisa mengerti, dia pasti akan baik-baik saja.
Tapi tetap saja, kang. Aku tetap merasa kasihan pada dia. Kira-kira Santi kecewa apa tidak ya, kang ?
Ya, yang namanya manusia ya wajar saja jika merasa kecewa. Jika sudah tidak punya rasa kecewa malah itu sudah tidak wajar lagi, he he he he he …….
Ya, ndak begitu, kang.
Ndak begitu bagaimana ?
Aku masih merasa kasihan pada dia, aku takut jika dia tidak bisa menerima dan dia tersakiti, aku ndak mau dia sakit karena aku. Apa lagi jika sampai sakit terus menerus…
Ya ndak begitu lah, Sul… Saya yakin, jika Santi sudah bisa menerima, dia pasti lebih bisa menerima kenyataan daripada kamu. Nyatanya malah kamu sendiri yang tersakiti.
Maksudnya…..??? Sisul masih bingung dengan kata-kata saya itu
Ya, saya lihat malah kamu sendiri yang tersakiti. Nyatanya kamu belum bisa menerima kenyataan ini, kamu masih saja memikirkan dia, padahal ini adalah keputusan pilihanmu.
Iya, sih……… Sisul termenung
Ya sudah, jika kamu sudah bisa merasakan itu. Sekarang masalahnya tinggal ada pada dirimu sendiri. Kamu bisa menerima kenyataan apa tidak.
Ya, berlahan aku coba, kang.
Sudah lah……… ndak usah terlalu dipikirkan begitu dalam, nanti malah kamu sendiri yang setresss……..he he he he he…………….
Berat, kang. Soalnya aku merasa bersalah sekali pada Santi, dia itu anaknya baik banget.
Ya, saya tau, Sul. Sebaik apa pun, pilihanmu kan sudah ditentukan pada Shinta, kau memilih Shinta, kan …. ?
Iya, kang….
Ya sudah, jika pilihanmu itu sudah mantap, kenapa kamu malah menambah masalah sendiri….
Iya sih……………
Sudah, ndak usah terlalu dipikirkan. Yang namanya manusia kecewa itu wajar dan lumrah. Awalnya memang berat untuk menerima, tapi suatu saat pasti bisa menerima, walau pun harus melewati proses-proses yang begitu berat. Seperti dirimu itu.
Iya, kang…
Tapi Santi punya rasa dendam apa tidak ya, kang. Aku takut jika Santi menaruh dendam padaku.
Percaya saja, jika dia sudah bisa menerima kenyataan ini, perasaan dendam itu tidak mungkin ada dalam pikirannya. Itu juga tergantung kamu bisa mengkomunikasikan atau tidak. Jadi kamu ndak usah mengkhawatirkan itu.
Maksudnya mengkomunikasikan ……..? Sisul belum juga maksud dengan kata-kata itu.
Ya, maksudnya….. Bagaimana kamu mengutarakan keputusanmu itu. Bagaimana hati Santi tidak terlalu tersakiti ketika mendengar kata-kata keputusanmu itu, sehingga dia bisa menerima dan tidak begitu tersakiti.
Ooooohhh………..
Ya sudah, sekarang masalahnya tinggal pada dirimu sendiri. Kamu bisa apa tidak melewati proses ini ?
Ya, Aku coba, kang. Semoga aku bisa lebih tabah menerima kenyataan ini.
Weleh………. kaya anak ayam baru ditinggal induknya…. ha ha ha ha ha……… ndak usah berlebihan gitu, biasa aja…….
Iya, kang…..
Ya sudah, kang. Aku pulang dulu, coba nanti tak hubungi lagi si Santi. Semoga dia tidak apa-apa.





gie on Tue, 23rd Feb 2010 10:10 pm
lo leh tau km nak mana ea???
Dariman on Thu, 4th Mar 2010 7:49 am
Mas Gie, aku anak Kebumen aja………..
Salam kenal